image

A: Bulan depan beli hewan qurban gak, bro?

B : Gak lah. Gak ada duit

A : Harga ponselmu berapa?

B : Dua juta.

A: Jual aja, beliin kambing. HP murah aja. HP mahal gak bisa nganter ke surga.

B : Bener juga yah

A : Kalo gaji berapa? Sebulan sisain 200rb, tiap tahun bisa qurban 1 kambing.

B : Iya sih. Sebenernya mampu, cuma kitanya mungkin yg niatnya gak kuat
Hampir tiap tahun kita ditegur oleh Allah melalui orang2 yg finansialnya jauh di bawah kita, tapi mereka bekerja keras, supaya bisa qurban. Tapi kita? Beli kendaraan puluhan juta gak pake mikir, tapi giliran beli hewan qurban mikirnya jutaan kali.

Padahal qurban ini bisa jadi kendaraan terkeren sepanjang sejarah, tunggangan kita untuk melintasi shiratal mustaqim, nganter kita menuju surga. Insyaallah. Ayuk berusaha tiap tahun selalu mengeluarkan qurban. Mumpung masih banyak waktu.
Sumber : Ahmad Rifai Rifan

Like & share yuk (smile)(smile)(smile)

Pada suatu hari, Nabi Ibrahim AS
menyembelih kurban fisabilillah
berupa 1.000 ekor domba, 300 ekor
sapi, dan 100 ekor unta. Banyak orang
mengaguminya, bahkan para malaikat
pun terkagum-kagum atas kurbannya.
“Kurban sejumlah itu bagiku belum
apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku
memiliki anak lelaki, pasti akan aku
sembelih karena Allah dan aku
kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi
Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena
Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga
mengandung.
Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim
agar menikahi Hajar , budaknya yang
negro, yang diperoleh dari Mesir.
Ketika berada di daerah Baitul Maqdis,
beliau berdoa kepada Allah SWT agar
dikaruniai seorang anak, dan doa
beliau dikabulkan Allah SWT. Ada
yang mengatakan saat itu usia Ibrahim
mencapai 99 tahun. Dan karena
demikian lamanya maka anak itu
diberi nama Isma’il , artinya “Allah
telah mendengar”. Sebagai ungkapan
kegembiraan karena akhirnya
memiliki putra, seolah Ibrahim
berseru: “Allah mendengar doaku”.
Ketika usia Ismail menginjak kira-kira
7 tahun (ada pula yang berpendapat 13
tahun), pada malam tarwiyah, hari
ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim
AS bermimpi ada seruan, “Hai
Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu)
.”
Pagi harinya, beliau pun berpikir dan
merenungkan arti mimpinya semalam.
Apakah mimpi itu dari Allah SWT atau
dari setan? Dari sinilah kemudian
tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai
hari tarwiyah (artinya, berpikir/
merenung).
Pada malam ke-9 di bulan Dzulhijjah,
beliau bermimpi sama dengan
sebelumnya. Pagi harinya, beliau tahu
dengan yakin mimpinya itu berasal
dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9
Dzulhijjah disebut dengan hari ‘Arafah
(artinya mengetahui), dan bertepatan
pula waktu itu beliau sedang berada di
tanah Arafah.
Malam berikutnya lagi, beliau mimpi
lagi dengan mimpi yang serupa. Maka,
keesokan harinya, beliau bertekad
untuk melaksanakan nazarnya
(janjinya) itu. Karena itulah, hari itu
disebut denga hari menyembelih
kurban (yaumun nahr). Dalam riwayat
lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim AS
bermimpi untuk yang pertama kalinya,
maka beliau memilih domba-domba
gemuk, sejumlah 100 ekor untuk
disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba
api datang menyantapnya. Beliau
mengira bahwa perintah dalam mimpi
sudah terpenuhi. Untuk mimpi yang
kedua kalinya, beliau memilih unta-
unta gemuk sejumlah 100 ekor untuk
disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba
api datang menyantapnya, dan beliau
mengira perintah dalam mimpinya itu
telah terpenuhi.
Pada mimpi untuk ketiga kalinya,
seolah-olah ada yang menyeru,
“Sesungguhnya Allah SWT
memerintahkanmu agar menyembelih
putramu, Ismail.” Beliau terbangun
seketika, langsung memeluk Ismail
dan menangis hingga waktu Shubuh
tiba. Untuk melaksanakan perintah
Allah SWT tersebut, beliau menemui
istrinya terlebih dahulu, Hajar (ibu
Ismail). Beliau berkata, “Dandanilah
putramu dengan pakaian yang paling
bagus, sebab ia akan kuajak untuk
bertamu kepada Allah.” Hajar pun
segera mendandani Ismail dengan
pakaian paling bagus serta meminyaki
dan menyisir rambutnya.
Kemudian beliau bersama putranya
berangkat menuju ke suatu lembah di
daerah Mina dengan membawa tali
dan sebilah pedang. Pada saat itu,
Iblis terkutuk sangat luar biasa
sibuknya dan belum pernah sesibuk
itu. Mondar-mandir ke sana ke mari.
Ismail yang melihatnya segera
mendekati ayahnya.
“Hai Ibrahim! Tidakkah kau perhatikan
anakmu yang tampan dan lucu itu?”
seru Iblis.
“Benar, namun aku diperintahkan
untuk itu (menyembelihnya),” jawab
Nabi Ibrahim AS.
Setelah gagal membujuk ayahnya,
Iblsi pun datang menemui ibunya,
Hajar. “Mengapa kau hanya duduk-
duduk tenang saja, padahal suamimu
membawa anakmu untuk disembelih?”
goda Iblis.
“Kau jangan berdusta padaku, mana
mungkin seorang ayah membunuh
anaknya?” jawab Hajar.
“Mengapa ia membawa tali dan
sebilah pedang, kalau bukan untuk
menyembelih putranya?” rayu Iblis
lagi.
“Untuk apa seorang ayah membunuh
anaknya?” jawab Hajar balik bertanya.
“Ia menyangka bahwa Allah
memerintahkannya untuk itu”, goda
Iblis meyakinkannya.
“Seorang Nabi tidak akan ditugasi
untuk berbuat kebatilan. Seandainya
itu benar, nyawaku sendiri pun siap
dikorbankan demi tugasnya yang
mulia itu, apalagi hanya dengan
mengurbankan nyawa anaku, hal itu
belum berarti apa-apa!” jawab Hajar
dengan mantap.
Iblis gagal untuk kedua kalinya,
namun ia tetap berusaha untuk
menggagalkan upaya penyembelihan
Ismail itu. Maka, ia pun menghampiri
Ismail seraya membujuknya, “Hai
Isma’il! Mengapa kau hanya bermain-
main dan bersenang-senang saja,
padahal ayahmu mengajakmu
ketempat ini hanya untk
menyembelihmu. Lihat, ia membawa
tali dan sebilah pedang,”
“Kau dusta, memangnya kenapa ayah
harus menyembelih diriku?” jawab
Ismail dengan heran. “Ayahmu
menyangka bahwa Allah
memerintahkannya untuk itu” kata
Iblis meyakinkannya.
“Demi perintah Allah! Aku siap
mendengar, patuh, dan melaksanakan
dengan sepenuh jiwa ragaku,” jawab
Ismail dengan mantap.
Ketika Iblis hendak merayu dan
menggodanya dengan kata-kata lain,
mendadak Ismail memungut sejumlah
kerikil ditanah, dan langsung
melemparkannya ke arah Iblis hingga
butalah matanya sebelah kiri. Maka,
Iblis pun pergi dengan tangan hampa.
Dari sinilah kemudian dikenal dengan
kewajiban untuk melempar kerikil
(jumrah ) dalam ritual ibadah haji.
Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS
berterus terang kepada putranya,
“Wahai anakku! Sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka pikirkanlah
apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât,
[37]: 102).
“Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku!
Kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu, Insya Allah! Kamu
mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]:
102).
Mendengar jawaban putranya, legalah
Nabi Ibrahim AS dan langsung ber-
tahmid (mengucapkan Alhamdulillâh)
sebanyak-banyaknya.
Untuk melaksanakan tugas ayahnya
itu Ismail berpesan kepada ayahnya,
“Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku
agar aku tidak bergerak-gerak
sehingga merepotkan.
Telungkupkanlah wajahku agar tidak
terlihat oleh ayah, sehingga tidak
timbul rasa iba. Singsingkanlah
lengan baju ayah agar tidak terkena
percikan darah sedikitpun sehingga
bisa mengurangi pahalaku, dan jika
ibu melihatnya tentu akan turut
berduka.”
“Tajamkanlah pedang dan goreskan
segera dileherku ini agar lebih mudah
dan cepat proses mautnya. Lalu
bawalah pulang bajuku dan serahkan
kepada agar ibu agar menjadi
kenangan baginya, serta sampaikan
pula salamku kepadanya dengan
berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah
dalam melaksanakan perintah Allah.’
Terakhir, janganlah ayah mengajak
anak-anak lain ke rumah ibu sehingga
ibu sehingga semakin menambah
belasungkawa padaku, dan ketika
ayah melihat anak lain yang sebaya
denganku, janganlah dipandang
seksama sehingga menimbulka rasa
sedih di hati ayah,” sambung Isma’il.
Setelah mendengar pesan-pesan
putranya itu, Nabi Ibrahim AS
menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam
melaksanakan perintah Allah SWT
adalah kau, wahai putraku tercinta!”
Kemudian Nabi Ibrahim as
menggoreskan pedangnya sekuat
tenaga ke bagian leher putranya yang
telah diikat tangan dan kakinya,
namun beliau tak mampu
menggoresnya.
Ismail berkata, “Wahai ayahanda!
Lepaskan tali pengikat tangan dan
kakiku ini agar aku tidak dinilai
terpaksa dalam menjalankan perintah-
Nya. Goreskan lagi ke leherku agar
para malaikat megetahui bahwa diriku
taat kepada Allah SWT dalam
menjalan perintah semata-mata
karena-Nya.”
Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan
tangan dan kaki putranya, lalu beliau
hadapkan wajah anaknya ke bumi dan
langsung menggoreskan pedangnya ke
leher putranya dengan sekuat
tenaganya, namun beliau masih juga
tak mampu melakukannya karena
pedangnya selalu terpental. Tak puas
dengan kemampuanya, beliau
menghujamkan pedangnya kearah
sebuah batu, dan batu itu pun terbelah
menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau
dapat membelah batu, tapi mengapa
kau tak mampu menembus daging?”
gerutu beliau.
Atas izin Allah SWT, pedang
menjawab, “Hai Ibrahim! Kau
menghendaki untuk menyembelih,
sedangkan Allah penguasa semesta
alam berfirman, ‘jangan disembelih’.
Jika begitu, kenapa aku harus
menentang perintah Allah?”
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya
ini benar-benar suatu ujian yang nyata
(bagimu). Dan Kami tebus anak itu
dengan seekor sembelihan yang
besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)
Menurut satu riwayat, bahwa Ismail
diganti dengan seekor domba kibas
yang dulu pernah dikurbankan oleh
Habil dan selama itu domba itu hidup
di surga. Malaikat Jibril datang
membawa domba kibas itu dan ia
masih sempat melihat Nabi Ibrahim
AS menggoreskan pedangnya ke leher
putranya. Dan pada saat itu juga
semesta alam beserta seluruh isinya
ber-takbir (Allâhu Akbar)
mengagungkan kebesaran Allah SWT
atas kesabaran kedua umat-Nya
dalam menjalankan perintahnya.
Melihat itu, malaikai Jibril terkagum-
kagum lantas mengagungkan asma
Allah, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar,
Allâhu Akbar”. Nabi Ibrahim AS
menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu
Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu
Akbar wa lillâhil hamd”. Kemudian
bacaan-bacaan tersebut dibaca pada
setiap hari raya kurban (Idul Adha).
Sumber: Nasiruddin, S.Ag, MM, 2007,
Kisah Orang-Orang Sabar, Republika,
Jakarta
dengan beberapa perubahan

Posted from WordPress for Android

Advertisements